Gampong Manyang adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Daerah ini memiliki sejarah yang kaya, dengan perkembangan yang dipengaruhi oleh berbagai peristiwa sejarah, budaya, dan kondisi geografis di wilayah Aceh.
Gampong Manyang, seperti banyak gampong (desa) lainnya di Aceh, memiliki akar sejarah yang panjang, dipengaruhi oleh peradaban Aceh yang sudah ada sejak kerajaan-kerajaan Islam di masa lalu. Aceh Utara, sebagai bagian dari wilayah Aceh, pernah menjadi pusat kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam yang sangat berpengaruh di dunia Islam pada abad ke-16 hingga ke-17.
Pada masa kerajaan, banyak gampong di Aceh, termasuk Gampong Manyang, menjadi bagian dari struktur pemerintahan dan pertahanan kerajaan Aceh. Gampong ini mungkin juga terlibat dalam perjuangan melawan penjajah Belanda dan kekuatan asing lainnya. Banyak desa di Aceh yang terlibat dalam perlawanan terhadap penjajahan, dan Manyang bisa jadi memiliki sejarah perjuangan yang serupa.
Setelah masa kemerdekaan Indonesia, Gampong Manyang mengikuti perkembangan sosial, ekonomi, dan politik yang terjadi di Aceh. Aceh Utara, termasuk di dalamnya Gampong Manyang, menjadi salah satu wilayah yang sangat dipengaruhi oleh konflik yang terjadi di Aceh pada akhir abad ke-20 hingga awal abad ke-21.
Konflik yang terjadi antara pihak pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada masa itu memberikan dampak besar bagi masyarakat, termasuk di Gampong Manyang. Gampong-gampong di Aceh, termasuk Manyang, mengalami kerusakan, pengungsian, serta perubahan sosial yang signifikan selama masa konflik tersebut. Namun, setelah perdamaian tercapai melalui MoU Helsinki pada tahun 2005, Gampong Manyang mulai memulihkan diri dan mengembangkan kembali kehidupan sosial serta ekonomi masyarakatnya.
Gampong Manyang, seperti banyak desa di Aceh, memiliki kebudayaan dan adat istiadat yang sangat kental dengan pengaruh Islam. Masyarakatnya masih memegang teguh tradisi-tradisi Islam yang diwariskan dari generasi ke generasi. Aktivitas keagamaan seperti pengajian, peringatan Maulid Nabi, dan upacara adat masih banyak dijumpai di sini.
Selain itu, kehidupan masyarakat Gampong Manyang sangat bergantung pada sektor pertanian, seperti bertani padi, palawija, serta perkebunan. Kehidupan sehari-hari masyarakat Gampong Manyang masih sangat terhubung dengan alam dan hasil bumi.
Setelah proses perdamaian, pembangunan di Gampong Manyang semakin berkembang, dengan dukungan dari pemerintah daerah dan berbagai lembaga pembangunan lainnya. Infrastruktur dasar, seperti jalan, pendidikan, dan fasilitas kesehatan, semakin diperhatikan. Pemuda-pemudi Gampong Manyang juga semakin aktif dalam berbagai bidang, baik di tingkat lokal maupun di luar daerah, berkat peningkatan pendidikan dan pelatihan yang mereka terima.